Nama
hijauan : pennisetum purpureum
Nama
lokal : rumput gajah
|
Kerajaan
|
|
|
(tidak
termasuk)
|
|
|
(tidak
termasuk)
|
|
|
Ordo:
|
|
|
Famili:
|
|
|
Bangsa:
|
|
|
Genus:
|
|
Anggota
kelompok : 1. Umi nur cholifah D14130045
2.
Putri Novi Yanti Harahap D14130104
Morfologi : rumput
Tipe
bunga : tipe spike
Habibat :
Afrika: Kenya, Tanzania,
Uganda, Ethiopia, Angola, Malawi, Mozambik,
Zambia, Zimbabwe, Pantai Gading, Ghana, Guinea,
Liberia, Nigeria, Sierra Leone, Togo,
Kamerun.
Umumnya ditemukan di sepanjang sungai, pinggiran hutan,
pematang sawah dan pada tanah
yang subur
Di alam liar, biasanya hanya ditemukan di daerah dengan curah hujan> 1.000 mm, dan di tepi sungai di daerah curah hujan rendah. Meskipun
sangat toleran kekeringan berdasarkan
sistem akar yang mendalam, membutuhkan
kelembaban yang
baik untuk
produksi. Tidak mentolerir banjir
atau genangan air yang
berkepanjangan. Tumbuh subur di permukaan tanah dengan
ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut.
Produksi
:
Panen pertama rumput gajah dilakukan pada umur 90 hari pasca-tanam. Panen
selanjutnya 40 hari sekali pada musim hujan dan 60 hari sekali pada musim
kemarau. Tinggi pemotongan dari permukaan tanah kira-kira 10-15 cm. Produksi
hijauan rumput gajah antara 100-200 ton rumput segar per hektar per tahun.
Peremajaan tanaman tua dilakukan
setelah 4-6 tahun untuk diganti dengan tanaman yang baru. Penanaman rumput
gajah dapat dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman lain, misalnya
ketela
pohon atau jagung.
Tanaman ini berfungsi untuk mengurangi terpaan hembusan angin yang
merobohkan tanaman lain. Penanaman rumput gajah dapat dilakukan di ladang, guludan,
dan pematang sawah.
Laju pertumbuhan tanaman rumput gajah relatif cepat karena memiliki respons
tinggi terhadap tanah yang subur. Bila
dirawat dengan baik dan dilakukan pemotongan secara berkala maka pertumbuhannya
cepat.. Penanaman Rumput Gajah sangat mudah, hanya dengan menanam batangnya
dengan sudut tanam 45 derajat dengan panjang tiga sampai lima ruas. Setiap ruas
akan muncul daun baru. Selain itu, tanaman ini juga cepat menyebar
ke samping menjadi rumpun.
Antinutrisi : Asam sianida (HCN) banyak
terdapat pada rumput budidaya, berdasaekan kandungan HCN pakan dapat dibagi
menjadi 5 kelompok
a.>250 ppm : masih rendah dan belum bahaya
b.250-500 ppm : rendah dan belum bahay
c.500-750 ppm : sedang, namun sudah diragukan
d.750-1200 ppm: tinggi dan sudah berbahay
e.>1200 ppm : sanagt tinggi dan sangat berbahaya
asam sitrat
terdapat pada hampir semua bahan pakan ternak, terutama pada bagian daun
tanaman makanan ternak. Pakan ternak yang mengandung asam sitrat 2% sudah
membahayakan bagi ternak. Batas toksisitas ternak ruminansia terhadap asam
sitrat adalah 1 g NO3/kg bobot badan. Asam oksalat banyak
dijumpai di dalam tanaman, termasuk tanaman hijauan pakan ternak, terutama bagian
daun.
Varietas :
Rumput gajah mempunyai beberapa varietas, antara lain varietas Afrika dan
Hawai. Varietas Afrika ditandai dengan batang dan daun kecil, tumbuh
tegak, berbunga, dan produksi lebih rendah dari varietas Hawai. Varietas
Hawai ditandai dengan batang dan daun lebar, pertumbuhan rumpun sedikit
menyamping, produksi lebih tinggi, juga berbunga.
Manfaat
:
Rumput Gajah banyak dibudidaya untuk keperluan makanan ternak Untuk penggemukan
sapi, kebutuhan minimal berkisar 1,5-0,8 bahan kering dari bobot sapi yang
digemukkan. Jadi, seekor sapi yang akan digemukkan berbobot 200 kg akan
diberikan rumput gajah segar yang mengandung 21% bahan kering. Dengan demikian,
kebutuhan minimal hijauan sapi yang akan digemukkan itu adalah 200x0,5/100x1kg=
1.0 kg bahan kering atau 4,8 kg bentuk segar rumput gajah Namun, dikarenakan
selalu ada bagian yang tidak dimakan (sisa batang), maka pemberian dilebihi 5%
dari kebutuhan, jadi kira kira rumput gajah segar yang akan diberikan kepada
sapi yang akan digemukkan sebanyak 105/100 x 4,8 kg = 5, 05 kg.Selain sebagai
makanan ternak, rumput gajah dapat dimanfaatkan untuk bahan produksi
fiber, penahan erosi
tanah, maupun sebagai pagar.
Penelitian terbaru :
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perkembangan
morfologi, karakteristik, produksi dan kualitas rumput gajah kultivar
Taiwan, King dan Mott, serta mengamati perubahan total
non-structural carbohydrates (TNC) (total
karbohidrat non-stuktural) rumput
gajah kultivar Taiwan. Penelitian tahap pertama dan
kedua menggunakan rancangan percobaan pola faktorial. Tiga kultivar (Taiwan,
King dan Mott) dan dua fase pertumbuhan (vegetatif dan reproduktif) digunakan
untuk menentukan indeks mean stage count (MSC), karakateristik
pertumbuhan, produksi bobot kering (Bk), protein kasar (PK), neutral detergent
fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), acid detergent lignin (ADL), kecernaan
bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO) dan kecernaan NDF (KcNDF).
Rancangan percobaan pola faktorial, dua fase pertumbuhan (vegetatif dan
reproduktif ) dan 4 pertumbuhan kembali (0, 4, 8 dan 12) hari setelah defoliasi
dan 3 ulangan untuk menentukan TNC pangkal batang dan anakan dan TNC akar
rumput gajah kultivar Taiwan. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa indeks MSC ( jmlah rata-rata stek ) dan SMSC kultivar Taiwan
lebih tinggi dibanding kultivar Mott, tetapi MSC dan SMSC kultivar
Taiwan tidak berbeda dengan kultivar King dan kultivar Mott tidak berebeda
dengan kultivar King. Indeks MSC dan SMSC meningkat pada fase reproduktif.
Panjang ruas dan diameter batang lebih tinggi pada kultivar Taiwan dan King
dibanding dengan kultivar Mott. Interaksi antara kultivar dengan fase
pertumbuhan ditemukan pada rasio daun batang, tinggi tanaman dan produksi bahan
kering. Rasio daun batang tertinggi pada interaksi kultivar dengan fase
pertumbuhan yaitu: Mott-vegetatif, Mott-reproduktif, King-vegetatif,
Taiwanvegetatif, King-reproduktif dan Taiwan reproduktif. Tinggi tanaman
tertinggi pada interaksi kultivar dengan fase pertumbuhan
yaitu:Taiwan-reproduktif, Kingreproduktif, Taiwan vegetatif, King-vegetatif,
Mott-reproduktif dan Mott-vegetatif. Produksi bahan kering tertinggi pada
interaksi kultivar dengan fase pertumbuhan yaitu:Taiwan-reproduktif,
King-reproduktif, Mott-reproduktif, Taiwan-vegetatif, King-vegetatifdan
Mott-vegetatif. Hasil penelitian kedua menunjukkan bahwa kandungan protein
kasar tertinggi terdapat pada kultivar Mott, sedangkan NDF, ADF dan ADL
tertinggi terdapat pada kultivar Taiwan dan King. Kandungan NDF, ADF, ADL
meningkat dan protein kasar menurun pada fase reprroduktif. Terdapat interaksi
antara kultivar dengan fase pertumbuhan terhadap KCBK, KcBO dan KcNDF. KcBK dan
KcBO tertinggi terdapat pada interaksi kultivar dengan fase pertumbuhan yaitu:
Mott-vegetatif disusul oleh Mott-reproduktif, King-vegetatif, Taiwan-vegetatif,
King-reproduktif dan Taiwan-reproduktif, sedangkan pada KcNDF pada kombinasi
Mott-vegetatif disusul oleh Mottreproduktif, King-vegetatif, Taiwan-vegetatif,
Taiwan-reproduktif dan Kingreproduktif. Penelitian ketiga menunjukkan bahwa
terdapat interaksi antara fase pertumbuhan dengan pertumbuhan kembali terhadap
TNC pangkal batang dan anakan dan TNC akar. Kandungan TNC pangkal batang dan
anakan pada fase vegetatif lebih rendah dibanding dengan fase reproduktif.
Terjadi penurunan TNC pada pangkal batang dan anakan pada fase vegetatif maupun
pada fase reproduktif sampai hari ke- 12. Kandungan TNC akar pada fase
vegetatif lebih rendah dibanding dengan fase reproduktif. Terjadi penurunan TNC
akar pada fase vegetatif maupun pada fase reproduktif. Penurunan TNC akar pada
fase vegetatif berlangsung lebih lambat dan mencapai nilai minimum pada hari
ke- 7,93; kemudian mulai meningkat pada hari ke-12. Kejadian sebaliknya pada
fase reproduktif, penurunan
TNC masih tetap berlangsung sampai pada hari ke- 12.
pustaka : Budiman.
2012. studi perkembangan morfologi pada
fase vegetatif dan reproduktif tiga kultivar rumput gajah (pennisetum purpureum
schum) [disertasi]. Universitas Gajah Mada
Penilaian
|
Nama
|
Nilai
|
Dosen
|
Nilai
Akhir
|
|
umi
|
novi
|
|
1.
Umi nur cholifah
|
|
|
|
|
|
2.
Putri novi yanti harahap
|
|
|
|
|